Manajemen Hutang


Hutang, kata benda, yang kata kerjanya biasanya menjadi kata kerja aktif ketika mendapat imbuhan ber- menjadi “berhutang”. Satu kata yang familiar semenjak saya nge-kost dan pisah dengan orang tua. Bagi sebagian besar orang, hal ini mungkin merupakan suatu hal yang tabu dan tidak pantas dikerjakan. Namun, bagi saya sepertinya hal ini merupakan hal yang lumrah dan mau tidak mau, suka tidak suka harus saya lakukan karena satu dan lain hal.

debt

Banyak alasan kenapa kita berhutang, sebagian besar sih karena tidak punya duit saat kita membutuhkannya. Sebagai contoh, akhir bulan kiriman dari ortu belum datang dan kita butuh makan padahal tak ada lagi sisa uang, mi instanpun sudah habis.. terpaksa.. berhutang. Sebab lainnya, saat butuh kendaraan bermotor yang apabila dihitung akan lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi lain, dan kita lagi nggak punya mahar buat belinya, terpaksa berhutang. Contoh terakhir, saat kita kepepet -keadaan mendesak- yang membutuhkan dana segar segera, dan dompet sama rekening sama-sama kosong.. ya gimana lagi, hutang dah..😛

Di pelajaran akuntansi, sebenarnya hutang itu tidak selamanya buruk asal kita bisa mengelolanya. Menurut saya, ada 3 fase dalam pengelolaan hutang yang pertama adalah kita bisa mendapatkan dana hutang -artinya kita cukup dipercaya bisa mengembalikan dana tersebut-. Kedua, menggunakan sesuai peruntukannya -ini masalah kepercayaan kepada diri sendiri apakah bisa mengontrol dan melaksanakan komitmen atau tidak-. Ketiga, melunasi hutang-hutang tersebut -terkait dengan kepercayaan akan adanya pendapatan di masa depan yang bisa digunakan untuk menutup lubang hitam itu-. Persamaannya adalah ketiga-tiganya butuh “kepercayaan”.

So, beberapa tips berhutang yang telah saya laksanakan selama ini:

  1. Akad yang jelas dan ketahui hak dan kewajiban masing-masing pihak, lebih penting lagi, jangan maksa. Sebisa mungkin hindari riba.
  2. Komitmen yang tegas disertai dengan rencana penggunaan dan pembayarannya.
  3. Pencatatan yang bagus, periodik dan mudah diakses -paling enak pake excel onlinenya google.
  4. Pembayaran setepat waktu mungkin dan ucapkan terima kasih.
  5. Jangan pelit juga ketika kata hutang berubah menjadi kata kerja pasif, dihutangi, ketika mampu cobalah untuk memberikan sesuai dengan ukuran.

Jika kesemuanya bisa dilaksanakan, insyaallah hutang tidak lagi menjadi hal yang membuat suatu hubungan menjadi renggang namun sebaliknya akan mempererat tali persaudaraan dan pertemanan.

Jadi, menurut saya pembiayaan melalui hutang sejatinya baik asal benar pengelolaannya dan dilandasi oleh kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada Sang Pemberi Rezeki.

Pos ini dipublikasikan di Ilmu, Personal dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s